Dari Surau ke Sekolah Muhammadiyah, Guru SMK Muhammadiyah Mayong Perkuat Semangat Pengabdian
![]()
MUHAMMADIYAHJEPARA. Semangat memperkuat pemahaman Al-Qur’an, Hadis, dan nilai-nilai Kemuhammadiyahan terus dibangun oleh keluarga besar SMK Muhammadiyah Mayong, Jepara. Salah satunya melalui kajian rutin yang digelar setiap bulan dan telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.
Kajian yang diikuti oleh bapak dan ibu guru tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk menambah wawasan keislaman dan Kemuhammadiyahan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali menyegarkan niat dalam menjalankan tugas sebagai pendidik di lingkungan sekolah Muhammadiyah.
Kepala SMK Muhammadiyah Mayong, H. Choiruzaed, mengatakan kegiatan kajian rutin tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan internal sekolah. Ke depan, kajian tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi embrio kegiatan kajian yang lebih luas dengan melibatkan jamaah dan warga Muhammadiyah di lingkungan sekitar.
Menurutnya, keberadaan sekolah Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari semangat dakwah dan pendidikan yang sejak awal menjadi bagian penting dari perjuangan Muhammadiyah.
Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan KH. Ahmad Dahlan
Kajian Al-Qur’an, Hadis, dan Kemuhammadiyahan edisi September 2026 menghadirkan Ustadz Dr. Muttaqin, M.H. sebagai pemateri. Kajian mengangkat tema “Dari Surau ke Sekolah Muhammadiyah”.
Dalam kajiannya, Ustadz Muttaqin mengajak para guru untuk melihat kembali perjalanan perjuangan KH. Ahmad Dahlan, terutama bagaimana pendidikan menjadi salah satu strategi penting dalam membangun perubahan masyarakat.
Materi tersebut mengulas perjalanan KH. Ahmad Dahlan atau M. Darwis (1868–1923), termasuk latar belakang pendidikan dan sanad keilmuannya. Dalam materi disebutkan bahwa Ahmad Dahlan pada masa kecilnya dididik dan diasuh oleh ayahnya sendiri di surau.
Perjalanan keilmuan tersebut kemudian berkembang melalui sejumlah guru dan ulama. Saat menunaikan ibadah haji, Ahmad Dahlan berguru kepada sejumlah ulama, antara lain KH. Mahfud Termas, KH. Nahrawi Banyumas, KH. Nawawi Banten, serta ulama mazhab Syafi’i hingga memperoleh ijazah dengan nama Haji Ahmad Dahlan.
Dari perjalanan tersebut, peserta diajak memahami bahwa perjuangan pendidikan Muhammadiyah tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang berupa penguatan ilmu agama, wawasan, serta keberanian untuk melakukan pembaruan.
Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Salah satu bagian penting dalam kajian adalah strategi KH. Ahmad Dahlan dalam mengembangkan pendidikan. Materi mencatat bahwa sebelum Muhammadiyah berdiri, Ahmad Dahlan telah mendirikan Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911. Setahun kemudian, Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan keilmuan dengan memadukan ilmu agama dan ilmu umum.
Pada masa itu, masyarakat Kauman memiliki pandangan bahwa sekolah gubernemen atau sekolah pemerintah identik dengan sekolah orang kafir atau Kristen. Ahmad Dahlan sendiri memperoleh pendidikan awal dari lingkungan keluarga dan surau.
Dari konteks tersebut, perjuangan pendidikan Muhammadiyah dapat dipahami sebagai ikhtiar membuka akses pendidikan sekaligus memperluas wawasan masyarakat.
Ustadz Muttaqin juga mengingatkan bahwa keberadaan berbagai amal usaha Muhammadiyah yang berkembang hingga sekarang tidak dapat dilepaskan dari perjuangan dan warisan keilmuan para pendahulu.
Antara Gaji dan Pahala
Dalam kajiannya, Ustadz Muttaqin menyampaikan ilustrasi sederhana mengenai kehidupan guru di sekolah Muhammadiyah.
Ia mengibaratkan amal dan pahala seperti menanam padi. Di sekitar tanaman padi terdapat rumput yang tetap memiliki manfaat dalam kehidupan. Dalam konteks guru Muhammadiyah, gaji diibaratkan sebagai rumput, sedangkan pahala menjadi padi yang menjadi tujuan utama dalam pengabdian.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bekerja di sekolah Muhammadiyah bukan semata-mata persoalan pekerjaan dan penghasilan. Ada dimensi pengabdian, dakwah, dan amal yang diharapkan menjadi bagian dari aktivitas seorang guru.
Hal itu sejalan dengan materi kajian yang menekankan pentingnya merawat amal usaha Muhammadiyah. Semua orang yang berada di lingkungan amal usaha Muhammadiyah diharapkan memahami khittah perjuangan Muhammadiyah.
Guru Diajak Menjaga Akhlak dan Khittah Perjuangan
Kajian berlangsung semakin interaktif ketika memasuki sesi tanya jawab. Dina, guru Kemuhammadiyahan, mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif mengenai relevansi perjuangan KH. Ahmad Dahlan dengan persoalan pendidikan saat ini.
Salah satu pertanyaannya adalah, “Jika KH. Ahmad Dahlan hidup pada zaman sekarang, masalah pendidikan apa yang akan menjadi perhatian beliau, dan mengapa?”
Pertanyaan berikutnya menyentuh alasan KH. Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai sarana perubahan masyarakat serta bagaimana seorang guru memaknai pekerjaannya apabila pada awalnya bekerja karena mengejar gaji.
Pertanyaan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu pesan penting: nilai pengabdian tidak semata-mata ditentukan oleh alasan seseorang ketika mulai bekerja, tetapi juga oleh bagaimana ia menjalankan amanah, membangun kemanfaatan, dan meluruskan niat dalam prosesnya.
Sementara itu, Anisyaul mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sekolah, yakni bagaimana menjaga pergaulan dan akhlak di lingkungan guru ketika pada saat yang sama para siswa dituntut memiliki akhlak yang baik.
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat kepada siswa. Guru sebagai pendidik juga memiliki posisi penting sebagai teladan dalam sikap, komunikasi, pergaulan, dan budaya kerja sehari-hari.
Materi kajian juga mengingatkan kembali salah satu agenda penting Muhammadiyah, yakni membangun budi pekerti. Dalam materi “12 Langkah Muhammadiyah”, membangun budi pekerti ditempatkan sebagai salah satu langkah penting bersama dengan memperluas masuknya iman, memperluas faham agama, dan menuntun amalan.
Dari Kajian Internal Menuju Gerakan yang Lebih Luas
Kajian bulanan yang telah berjalan sekitar tiga tahun tersebut diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas internal bagi guru SMK Muhammadiyah Mayong. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan menjadi embrio bagi tumbuhnya forum kajian yang dapat melibatkan masyarakat dan jamaah warga Muhammadiyah di sekitar sekolah, ungkap H. Choiruzaed dalam sambutannya.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan utama kajian “Dari Surau ke Sekolah Muhammadiyah”: bahwa sekolah Muhammadiyah bukan sekadar tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga bagian dari perjalanan dakwah, pendidikan, dan pengabdian.
Dari surau, semangat keilmuan diwariskan. Dari sekolah, ilmu itu diteruskan kepada generasi berikutnya. Dan dari para guru, nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah diharapkan terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, kajian bulanan tersebut bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang untuk menguatkan ilmu, menyegarkan niat, merawat akhlak, dan menghidupkan kembali semangat perjuangan Muhammadiyah di lingkungan sekolah.
Kontributor: Dina Setyaningsih_MPI PDM Jepara
