Site icon MUHAMMADIYAH MENCERAHKAN SEMESTA

PRM BLIMBINGREJO MOVE ON

Kepergian Pak Subhan menyisakan kegalauan kolektif khususnya generasi muda Blimbingrejo. Kegalauan ini bukan tentang melankolisme keberpisahan yg fana. Namun, kegalauan tentang bagaimana meneruskan kepemimpinan persyarikatan ke depan.

Pemuda Blimbingrejo merasa belum siap dengan kepergian pak Subhan. Sosok kepemimpinannya nampaknya belum tergantikan oleh siapa pun yang ada di Blimbingrejo. Ia adalah pemimpin umat yang sangat mengayomi, membimbing, dan memberikan keteladan terhadap masyarakat dengan sepenuh hati, kesabaran yang luas, dan keikhlashan yang murni.

Kepedulian dan ringan tangannya dalam membantu warga yang mendapatkan kesulitan dan musibah sudah menjadi rahasia umum. Kesabarannya dalam menghadapi sikap dan karakter warga yang beragam sudah teruji. Selalu minta maaf terlebih dahulu meskipun tidak bersalah. Keramahannya terhadap semua warga nampaknya tidak ada yang menandinginya.

Kepergian pak Subhan bagi wargaMu Blimbingrejo laksana ayam kehilangan semang. Kondisi seperti ini pernah terjadi 30 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1993, ketika kepergian pak Umar Hasyim, tokoh utama pembangun peryarikatan Muhammadiyah Blimbingrejo. Saat itu, generasi pak Subhan (usia 30 tahunan) pun mengalami kegalauan massal bagaimana nasib persyarikatan ke depan. Muncul perasaan ketidak-PD-an untuk melanjutkan perjuangan. Sosok kepemimpinan pak Umar (panggilan Warga) yang menasional tak tergantikan. Namun, ternyata PRM Blimbingrejo semakin berkembang. Apalagi dengan kehadiran Ponpes Modern Asyifa’ dan lebih dari itu, PRM Blimbingrejo mendapatkan prestasi yang sangat membanggakan, yaitu, Juara 1 Ranting Terunggul tingkat nasional dalam Lomba CRM AWARD LPCR PP 2024.

Secara pribadi, saya tetap optimis, in sya Allah generasi pak Edi Purwanto, Ketua PRM Blimbingrejo, mampu melanjutkan estafet perjuangan persyarikatan Blimbingrejo.

نصر من الله و فتح قريب

Kang Uher
Wakil Ketua PRM Blimbingrejo

Exit mobile version