Menjemput Taufik di Detik-Detik Berbuka: KH. Sukahar Urai Hakikat Hidayah dan Pertolongan Ilahi
![]()
MUHAMMADIYAH.JEPARA. Menjelang azan Magrib pada Sabtu (28/2/2026), Masjid At-Taqwa Jepara dipenuhi suasana teduh dan khidmat. Para jamaah yang tengah menanti waktu berbuka puasa terlebih dahulu mengikuti kultum yang disampaikan KH. Sukahar, Lc., M.P.I., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara yang membidangi Lembaga Pengembangan Pesantren dan Masjid sekaligus Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah Nurul Ilmi, Bucu, Kembang, Jepara. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang semakin menghangatkan kebersamaan Ramadan.
Dalam tausiyahnya, KH. Sukahar mengingatkan pentingnya menyandarkan seluruh kekuatan kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa manusia tidak memiliki daya apa pun tanpa pertolongan-Nya.
“Kita tidak bisa mengandalkan kemampuan diri semata. Kekuatan sejati adalah ketika Allah menolong kita. Karena itu, kita diajarkan untuk berdoa: Allāhumma a‘innī ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik—Ya Allah, tolonglah aku agar mampu berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan perbedaan makna hidayah dan taufik. Hidayah, menurutnya, bisa berupa sampainya petunjuk kepada seseorang—melalui ayat-ayat Al-Qur’an, ceramah, nasihat, maupun tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Namun, tidak semua orang yang menerima hidayah otomatis memperoleh taufik.
“Taufik itu ketika Allah tidak hanya memberi pengetahuan tentang kebenaran, tetapi juga memampukan seseorang untuk melaksanakannya. Banyak orang tahu pentingnya salat berjamaah, tilawah, atau qiyamul lail. Tetapi ketika Allah memberi kemampuan hingga ia benar-benar melakukannya, itulah taufik,” jelasnya di hadapan jamaah.
Ia juga menyinggung kisah Abu Thalib dan Abu Jahal yang memahami kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak mendapatkan taufik untuk beriman. Peristiwa wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA dalam satu tahun yang dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzni menjadi pelajaran berharga tentang hakikat hidayah dan taufik.
Mengutip firman Allah, “Innaka lā tahdī man ahbabta walākinallāha yahdī man yasya’,” KH. Sukahar menekankan bahwa Rasulullah SAW pun tidak berkuasa memberi taufik kepada orang yang dicintainya. “Hidayah taufik sepenuhnya milik Allah. Tugas kita adalah terus berdoa dan berikhtiar,” imbuhnya.
Suasana semakin syahdu ketika kultum mendekati akhir. Jamaah menyimak dengan saksama, mempersiapkan hati untuk menyegerakan berbuka sebagaimana dianjurkan dalam sunnah. Tausiyah singkat itu menjadi penguat ruhani sebelum menikmati hidangan berbuka bersama.
Salah seorang jamaah, Muslim, mengungkapkan kesannya usai kegiatan. Ia merasa mendapatkan pengingat mendalam tentang pentingnya memohon pertolongan Allah dalam setiap kebaikan.
“Saya jadi lebih memahami bahwa niat baik saja tidak cukup. Kita butuh taufik dari Allah agar bisa istiqamah. Kultum ini membuat suasana berbuka terasa lebih bermakna dan penuh syukur,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi kultum jelang Magrib yang diikuti buka puasa bersama bukan hanya mengenyangkan secara jasmani, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah. Ramadan pun kian terasa sebagai momentum menempa keikhlasan, kesabaran, serta memperbanyak doa agar senantiasa diberi hidayah dan taufik hingga akhir hayat.
Kontributor: Muslim
Editor: Dina Setyaningsih_MPI PDM Jepara
