Oleh: Taufiq Nugroho Noor, S. Sos I, S.Pd
Jeparamu.or.id – “Sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah, K.H. Noor Su’udi memiliki komitmen yang tinggi untuk menegakkan tauhid yang murni, din yang hanif dan masyarakat utama yang dibangun berdasarkan syari’at yang benar, yaitu berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah. Itulah ciri Mubaligh Muhammadiyah. Itulah misi yang dibawa Persyarikatan Muhammadiyah. Membangun ummat dengan Tauhid yang murni dan benar.” Tulis DR Abdul Mu’ti di buku “Pencerahan Ummat dengan Syahadah”. K.H. Noor Suudi.2001
K.H Noor su’udi adalah perintis berdirinya Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Dorang, Jepara. Beliau lahir di Desa Dorang, Nalumsari, Jepara, pada tanggal 7 April 1941, masih dalam suasana penjajahan belanda. Ayahnya adalah Mito Kusumo seorang Kamituwo yang humanis. Ibunya adalah mbah Rasimah, seorang wanita hebat yang kemudian menjadi single parent dalam mendidik anaknya. Beliau mempunyai kakak perempuan (satu ayah beda ibu), yaitu mbok de Kasminah. Dalam usia 10 tahun, dia sudah menjadi yatim ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Hal itu tidak menjadikan mbah Rasimah putus asa mendidik anaknya yang telah lama dinanti kelahirannya.
Pendidikan informal K.H Noor Su’udi berguru kepada K.H. Oemar. Beliau Kyai besar Desa Dorang putra Mbah H. Dahlan dan Mbah Maryam. Menurut ibu penulis, HJ. Lantrifah Oemar, Mbah K.H. Oemar adalah lulusan Pondok pesantren Tebu Ireng Jombang. Secara nasab ilmu, sesungguhnya K.H Noor Su’udi mempunyai nasab ilmu sampai ke K.H Hasyim Asy’ari. Peran mbah Rasimah sebagai sorang ibu sangat luar biasa dengan menitipkan putranya ke Mbah H. Oemar sehingga menjadi murid yang sholih, cerdas, sopan dan istiqomah. Hal inilah yang kemudian Hari Noor su’udi muda dipilih menjadi anak mantunya. Pendidikan formalnya di tempuh di SR Blimbing Rejo dan Mayong (1948-1954), Madrasah Sabilul Ulum (Mayong Lor), Madrasah Ma’ahid Kudus (1954-1959), dilanjutkan ke PGA Kudus(1966), pernah juga kuliah di IKIP Muhammadiyah Kudus (1975) hanya sampai semester 4, karena IKIP Muhammadiyah Kudus pindah ke Surakarta.
Tentang keluarganya, beliau menikah di tahun 1959 dengan Hj.Lantrifah binti K.H oemar dikaruniai 8 orang anak; Ali Khumaidi Noor, S.H, Drs. Badrudin Noor, Nazli Astutik Noor, Drs. Firdaus Abidin Noor, Siti Fatmayanti Noor, A.Md. Riana Immawati Noor, S. Pd, Taufiq Nugroho Noor, S. Sps I, S,Pd, Fatwa Natal Noor, S.E . Sedangkan dengan istri kedua, ibu Widji mempunyai seorang anak putri, yaitu Ida Kristiana, S.E, M. Si. Walaupun dengan itri kedua tidak berlanjut lama K.H. Noor Su’udi telah berhasil memualafkannya menjadi seorang muslimah. Harapan beliau, menjadikan anak-anaknya tidak hanya sebagai kader biologis tetapi juga sebagai kader ideologis untuk meneruskan amanah K.H. Ahmad Dahlan dalam “menghidupkan Muhammadiyah”. Pesan beliau kepada anak penerusnya adalah,” tetaplah mendakwahkan Islam lewat gerakan Muhammadiyah. Mereka melaksanakan amanah untuk aktif di persyarikatan dimanapun mereka berada, dilevel ranting, cabang, daerah ataupun wilayah, semua sama mulyanya. Disisi lain, Selain menjadi Mubaligh beliau adalah seorang PNS, guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Karirnya di mulai dari guru PAI SD N Sidi gede, SDN 1 Pelemkerep, SD N I Dorang (1967- 1980), SMP Bakti Praja Mayong (1980-1984) dan terakhir di SMA Islam Sultan Agung 2 Kalinyamatan Jepara (1984-2001).
Pergulatatan K.H. Noor Su’udi dengan Muhammadiyah dimulai dari Madrasah Ma’ahid Kudus. Madrasah ini di tahun 1960-an menjadi tempat berseminya dakwah kelompok Islam moderat dan puritan (Muhammadiyah) di Pantura timur (Kudus, Jepara, Demak dan Pati). Sebagian besar para perintis dan mubaligh Muhammadiyah di daerah itu adalah alumni Madrasah Ma’ahid. Seperti; K.H. Noor Su’udi, K.H. Sudjadi (Dorang),K.H. Ali Mahmudi (Kuanyar), K. Umar Hasyim (Blimbing Rejo), Mustain (Nalumsari), Ustadz Noor Aziz (Tigo Juru) dan banyak lagi yang penulis belum bisa menyebutkan. Tokoh penting yang sering disebut K.H Noor Su’udi, mempengaruhi gerakan Muhammadiyahnya adalah “kang Ikhsan (ahmad Zaini Ikhsan) kepala Madrasah Maahid Kudus waktu itu. Ada juga K.H. Musman Tholib, (pernah menjadi kepala sekolah SMA Muhammadiyah Kudus, Pernah juga menjadi ketua PWM Jawa Tengah) yang sering memberi taushiyah di Ranting Dorang. Berawal dari inilah gerakan Muhammadiyah didakwahkan di Desa Dorang.
Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dorang adalah sebuah ranting yang unik di Kabupaten Jepara. Secara geografis, desa ini berada di ujung timur selatan wilayah jepara. Berbatasan dengan Kabupaten Kudus di sebelah timur dan Kabupaten Demak disebelah selatan. Tahun 1960-an, desa Dorang adalah sebuah desa yang termasuk katagori desa miskin, pelosok, belum dialiri listrik, jalan belum beraspal dan sering terlanda banjir. Secara sosiologis desa ini adalah desa yang plural. Masyarakatnya terdiri dari; santri, abangan dan kristen. Desa Dorang merupakan satu desa di kabupaten Jepara yang mempunyai komunitas non muslim dengan rumah ibadahnya yang megah sejak 1950-an. Perintisnya adalah seorang mantan Kyai, yaitu H. Abdullah. Dia asli putra desa Dorang, putranya K.H. Muhammad Noor. Paman dari K.H Oemar. Hal ini yang menjadikan Agama ini bisa berkembang. Disinilah peran K.H Noor su’udi lewat pendirian PRM Dorang mendakwahkan gerakan Islam berdasar Al Qur’an dan Assunah untuk menjaga ummat agar tetap menjaga keyakinan dan aqidahnya.
Peran dakwah Muhammdiyah di Desa Dorang diawali dengan berdirinya Masjid At-Taqwa Dorang yang berada di Dukuh Gempol tahun ±1967 di tanah wakaf Mbah Muryati dan K.H Noor Su’udi. Bersamaan dengan itu, juga berdiri musholla Attaqwa yang kemudian berubah menjadi Mushola KH. Noor Su’udi, Nama Musholla tersebut diambil dari nama tokoh perintis Muhammadiyah untuk mengenang jasa-jasanya dalam mendirikan PRM Dorang. Masjid At-Taqwa sendiri dulunya masih berupa bangunan yang masih belum layak disebut masjid, sehingga banyak orang yang mencela masjid itu dengan sebutan pondok. Walaupun Masjid Taqwa Dorang sudah digunakan untuk sholat jama’ah dan sholat jum’at. Celaan itu untuk menurunkan semangat mental warga Muhammadiyah, namun hal itu tidak menurunkan ghiroh dalam memperjuangkan agama Allah. Masjid At-Taqwa merupakan pusat peradaban Muhammadiyah dan ritual ibadah di Desa Dorang yang di bangun di tengah-tengah masyarakat abangan yang miskin dan mengalami kekosongan spiritual pada masa itu. Sedangkan Mushola K.H Noor Su’udi (rumahnya) menjadi tempat penguatan ilmu agama bagi sebagian besar anak-anak muda desa Dorang.
Dakwah perjuangan K.H Noor Su’udi mendirikan PRM Dorang di bantu oleh beberapa kawan dan muridnya, seperti; M Sofwan, K.H. Sujadi, Sunardi, Karjono, Karsono, Hudi, Andriyanto, Sukahar, Paimin, Mashoeri Fadhil dan lain sebagainya. Pada Tahun 1967 mereka berjuang mendirikan Masjid sendiri di dukuh Gempol. Hal ini dipicu oleh suasana kebatinan untuk menjadikan dukuh Gempol yang abangan menjadi masyarakta kaum yang santri. Disisi lain riak-riak kecil dengan golongan tua (K.H Oemar menambahsemakin mantabnya niat mereka mendirikan Masjid. Sebelumnya, K.H Noor su’udi adalah Murid tercinta K.H. Oemar dan juga termasuk santri yang aktif mengajar ngaji dan aktifis Masjid Jami’ Baitussalam. Konflik ini menurut Hj Lantrifah (istri K.H Noor Su’udi), mengakibatkan keluarga kecilnya, yang sudah mempunyai dua putra, yaitu; Ali Khumaidi dan Badrudin Noor hampir berpisah. Tetap ikut suaminya menjadi Muhammadiyah atau ikut ayahnya (K.H. Oemar). Sebuah pilihan hidup yang dilematis, ketika itu Noor Su’udi muda belum mempunyai pekerjaan tetap (baru di angkat menjadi PNS sebagai guru PAI SD tahun 1966). Rintangan Pendirian PRM Dorang sungguhlah tak mudah dan ringan. Bahkan di tahun 1965-an rumah beliau pernah di kepung gerombolan orang dengan pedang tajam yang mengerikan karena K.H. Noor Su’udi dituduh melindung tetangga yang dianggap PKI, tetapi para kader muda tetap setia mendampinginya. Beliau terus berusaha memperkenalkan Muhammadiyah kepada warga Desa Dorang sesuai dengan Al-Qur’an dan Assunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan dibantu generasi yang lebih muda (murid-muridnya) seperti; Zubaidi, Garbin, Mulyanto, Burdi, Karmiyadi, Badrudddin dan yang lain. PRM Dorang semakin berkembang. Di tahun 1977 Masjid Taqwa ( sering disebut pondok) dibongkar dan dibentuk selayaknya Masjid dengan ada Qubahnya. Dakwah memperkenalkan Muhammadiyah terus berjalan. Sedikit demi sedikit masyarakat mulai lebih tahu dan faham apa sebenarnya Muhammaiyah itu.
K.H. Noor Su’udi termasuk Kyai Muhammadiyah yang otentik, artinya beliau mubaligh yang berdakwah tidak hanya didesa Dorang tetapi hampir diseluruh wilayah kabupaten Jepara. Wilayah Dakwahnya mulai Donorojo, Keling, Mbucu, Cepogo, Bangsri, Jepara kota, Pecanggaan, Kalinyamatan Mayong sampai Nalumsari. Karir berMuhammadiyah dari Ketua PRM, Ketua PCM dan bahkan ketua PDM Jepara. Beliau termasuk yang merintis pendirian PCM Nalumsari, setelah memecahkan diri dari Kecamatan Mayong. Beliau ikut merintis pendirian SMA Muhammadiyah Mayong yang dipimpin oleh Bp.Umar Hasyim. Tokoh-tokoh seperti Bp Noor Chamid, Bp. Said Oet, K.H Ali Mahmudi, pemuda Yusuf juga ikut mendirikan lagi PKU Muhammadiyah Mayong yang pernah ada di tahung 1980-an, dengan Bp. Abdul Madjid sebagai ketuanya. K.H Noor Su’udi juga berdakwah di instansi pemerintah dan masyarakat umum, tetapi yang paling penting beliau mampu mendirikan Ranting di tempat tinggalnya. Seperti Bp. Umar Hasyim kawannya juga mendirikan Ranting didesa Blimbing Rejo, tetangga desa. Kyai otentik tidak pernah lalai untuk menyebarkan dakwah dimulai ditempat asalnya. Hal inilah yang menjadi contoh setiap mubaligh dan kader Muhammadiyah dimanapun berada untuk menghidupkan ranting. Sebagaiman Bp. Prof. DR. Din Syamsudin juda Mendirikan Ranting Pondok Labu (tempat tinggalnya) setelah beliau turun dari ketua PP Muhammadiyah. Ranting dan cabang adalah ujung tombak perjuangan dakwah Muhammadiyah. Kalau tak ada ranting maka terputuslah dakwah di akar rumput ummat.
Perjuangan meneruskan dakwah tak kalah beratnya. Para kader harus mampu mempertahankan bahkan meningkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut K.H Badrudin Noor (Putra kedua K.H. Noor Su’udi, tokoh PRM Dorang mengatakan bahwa, dengan tingkat partisipasi jamaah yang tinggi PRM Dorang memiliki berbagai Amal Usaha misalnya : Masjid Taqwa Dorang, Madrasah Diniyah Al-Islah Dorang, Mushola At taqwa brang kulon di tanah waqaf Mbah Sipah, Musholla Al-Mujahidin di Gempol, Musholla KH. Noor Su’udi, BMT Surya Bersinar, PAUD dan TK ABA Dorang. Masjid Taqwa mengalami beberapa pemugaran karena kualitas bangunan dan memenuhi jamaah yang semakin tambah(1967, 1977, 1992, 2012). Perjuangan PRM Dorang saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran para pemuda-pemudinya sebagai penerus amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah. Mereka adalah PR IPM, PRTSPM, PR Nasyi’atul Aisyiyah dan PR Pemuda Muhammadiyah Dorang. Merekalah yang mengiaktifkan kegiatan PRM Dorang. Memberdayakan Madrasah Diniyah al-ishlah Muhammadiyah sebagai tempat pendidikan agama dan melatih pergerakan. Dalam rangka milad setengah abad (ke-50) PRM Dorang membuat acara sepeda santai dengan hadiah sepeda gunung diikuti oleh 1000 orang pada tahun 2017. “Hal ini memberi pesan bahwa dakwah Muhammadiyah di Desa Dorang semakin di akui masyarakat umum”, Kata Ustadz Taufiq Nugroho Noor, S. Sos I, S,Pd, tokoh muda PRM Dorang yang juga putra nya yang nomor delapan.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara, K.H. Fachrur Rozy, memberikan kesaksian,” K.H Noor Su’udi adalah mubaligh yang konsisten dalam perjuangannya membesarkan Muhammadiyah di Jepara. Beliau termasuk tokoh yang sangat tegas terhadap kelompok “sempalan” di tahung 1990-an yang ingin merusak Muhammadiyah dari dalam. Beliau sosok mubaligh yang juga sebagai sosok guru dan ayah bagi kader muda seperti saya.” Beliau juga menambahkan semoga kita bisa mengambil suri tauladan dari para tokoh pendahulu Muhammadiyah Jepara seperti; Bp. H. Lembah Soekiman (Kalinyamat), Bp. H. Miryadi(Kedung), Bp. Noor Chamid(Mayong), Bp Nahid(Mlonggo), Bp H. Mustain(Bangsri), Bp. DR. H. Saefudin Waspada dan lain sebagainya. Perjuangan K.H. Noor Su’udi akan terus di hidup-hidupkan dan digembirakan sampai kapanpun demi Terciptanya Masyarakat utama. Beliau wafat di Desa Dorang pada hari selasa, tanggal 21 November 2006. Pesan beliau, “(Taufiq Nugroho Nur, S. Sos I., S.Pd. Mantan ketua IMM Al Faruqi uin Walisongo Semarang, Ketua PDPM Jepara (2014-2019), ketua AMM PRM Dorang)

