Gerhana Bulan di Ramadan, Jamaah Masjid Al-Istiqomah Tahunan Perkuat Iman dan Hidupkan Ibadah
![]()
MUHAMMADIYAH.JEPARA. Fenomena gerhana bulan yang terjadi pada Selasa malam, 3 Maret 2026, bertepatan dengan Ramadhan 1447 H, disambut khidmat oleh Jamaah Masjid Al-Istiqomah Tahunan Jepara. Momentum langka tersebut dimaknai sebagai ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah SWT yang mengajak umat untuk semakin meneguhkan tauhid dan meningkatkan kualitas ibadah. Sholat Gerhana (Khusuf) dilaksanakan berjamaah dan dipimpin oleh Ustadz Mian, yang juga menyampaikan khutbah penuh pesan spiritual setelah pelaksanaan salat.

Rangkaian ibadah diawali dengan buka puasa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sholat gerhana secara tertib dan khusyuk. Pengurus masjid sebelumnya telah menginformasikan kepada jamaah bahwa pelaksanaan salat dilakukan setelah berbuka agar seluruh rangkaian ibadah dapat diikuti dengan lebih tenang. Salah satu pengurus, Agung Wibowo, menegaskan bahwa pengumuman tersebut bertujuan agar jamaah dapat mempersiapkan diri dengan baik dan memahami makna ibadah yang akan dilaksanakan.
Dalam khutbahnya, Ustadz Mian mengingatkan bahwa gerhana bukanlah pertanda kesialan ataupun peristiwa mistis, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang berjalan sesuai sunnatullah. Ia mengutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak mengalami gerhana karena kelahiran atau kematian seseorang. “Gerhana adalah panggilan untuk memperbaiki tauhid dan menjauhi takhayul,” tegasnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia mengaitkan fenomena tersebut dengan firman Allah dalam Surat Yasin ayat 38 tentang keteraturan peredaran matahari sebagai bukti kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Menurutnya, Islam memadukan wahyu dan ilmu pengetahuan secara harmonis; fenomena astronomi justru memperkuat keyakinan bahwa alam semesta berjalan dalam ketentuan-Nya.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Mian menyampaikan tiga pesan utama yang relevan dengan peristiwa gerhana di bulan Ramadhan. Pertama, memperkokoh tauhid dan membersihkan keyakinan dari segala bentuk khurafat. Kedua, memperbanyak ibadah seperti salat, dzikir, doa, dan sedekah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW saat terjadi gerhana. Ketiga, menjadikan momen tersebut sebagai sarana muhasabah dan taubat yang sungguh-sungguh.
Ia menekankan bahwa pertemuan antara Ramadan dan gerhana adalah momentum reflektif yang jarang terjadi. “Seorang mukmin tidak berhenti pada fenomena alam, tetapi mencari hikmah di baliknya. Ramadan dan gerhana mengingatkan kita bahwa ibadah adalah kebutuhan ruhani,” ungkapnya.
Menutup tausiyah, Ustadz Mian mengajak jamaah menjadikan gerhana sebagai titik pembaruan diri. Ia mengingatkan agar kegelapan yang tampak di langit tidak menjadikan hati ikut gelap, melainkan menjadi pengingat untuk menyalakan cahaya iman. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh kekhusyukan, memohon agar peristiwa tersebut menjadi wasilah peningkatan iman, ibadah, dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Kontributor: Muslim
Editor: Dina Setyaningsih_MPI PDM jepara
