MUHAMMADIYAH MENCERAHKAN SEMESTA
MUHAMMADIYAH MENCERAHKAN SEMESTA
Berita Terbaru

ARYO DAMAR SANTRI KAMPUNG, PERINTIS RANTING MUHAMMADIYAH

Loading

Angin malam dari lereng Gunung Muria berembus pelan, membelai lembah Karang Asmoro sebuah desa sunyi yang terletak dilembah kaki gunung Muria. Di sanalah berdiri sebuah langgar kayu tua, kokoh dan bersahaja. Bangunannya berbentuk panggung dari kayu jati, menghadap ke halaman rumah joglo milik Haji Omar. Di sampingnya, sebatang pohon jambu besar tumbuh tegak, seolah menjadi saksi bisu perjalanan dakwah dan pendidikan yang telah berlangsung puluhan tahun.

Langgar itu bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah pelita di lembah Karang Asmoro. Setiap sore hingga menjelang malam, suara anak-anak mengaji menggema lembut dari dalamnya. Mereka duduk bersila di teras langgar, belajar membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar agama kepada Haji Omar, seorang kiai sederhana, lincah, dan bersahaja, lulusan pesantren ternama di Jombang, Jawa Timur. Dari langgar kayu inilah sejarah kecil penyebaran Islam di pelosok Jepara terus berdenyut.

Suatu sore menjelang magrib, seorang perempuan tua datang menggandeng anak lelakinya. Ia adalah Mbah Roro Ayu Dasima, seorang janda sederhana. Anak itu bernama Aryo Damar Mito Kusumo. Dengan wajah penuh harap, Mbah Dasima menyampaikan maksudnya.

“Mbah Kyai Omar, aku hanya seorang janda. Suamiku, Mito Kusumo Sudah meninggal, Aku titipkan anak lelaki satu-satunya ini kepadamu. Didiklah dia dengan ilmu agama sebagai bekal hidupnya. Jangan sampai ia tumbuh seperti kami, orang tuanya, yang minim pemahaman agama,” pintanya lirih.

Haji Omar menatap bocah itu dengan teduh. “Aku terima titipanmu, Mbah Dasima. Anak ini tampak cerdas. Semoga Allah memudahkan ia menerima ilmu dariku,” jawabnya mantap.

Sejak hari itu, setiap sore menjelang magrib, Mbah Dasima setia mengantar Damar ke langgar. Dengan caping keropak lebar di kepala untuk menahan hujan, ia menapaki jalan desa yang becek dan rimbun pepohonan. Malam-malam Karang Asmoro kerap terasa angker, namun tak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Dengan sabar ia menunggu dan menjemput Damar di tepi langgar.

“Damar, bagaimana perasaanmu mengaji di langgar Haji Omar?” tanya Mbah Dasima suatu malam.

“Aku kerasan dan bahagia, Ibu,” jawab Damar singkat, namun penuh keyakinan.

Hari berganti pekan, pekan menjelma bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Damar tumbuh menjadi pemuda tampan, cerdas, dan berfisik kuat. Hatinya lembut, meski beberapa kali ia terlibat perkelahian demi membela kebenaran atau menolong kawan. Ia tetap setia mengaji di langgar Haji Omar sambil menuntut ilmu di sebuah madrasah di Kudus yang didirikan oleh KH. Abdul Muchith, seorang ulama besar lulusan Universitas Al Azhar Mesir.

Suatu hari, saat mendapat tugas membersihkan langgar, Damar tanpa sengaja bertemu Larasati, putri Haji Omar yang mengenakan kerudung putih. Tatapan mereka bersua sekejap.

“Astagfirullah,” desis Damar, buru-buru menundukkan pandangan.

Namun getar itu tak dapat dibendung. Di usia tujuh belas tahun, benih rasa tumbuh diam-diam di dada keduanya, tersimpan rapi tanpa pernah terucap.

Haji Omar rupanya menangkap getar asmara itu. Ia memanggil Paman Rangkuti, paman Damar.

“Rangkuti, apakah Damar sudah dijodohkan oleh ibunya?” tanyanya.

“Belum, Kyai. Izinkan saya menanyakan hal itu,” jawab Rangkuti.

Saat mendengar maksud tersebut, Mbah Dasima sempat ragu. “Damar hanyalah anak seorang janda miskin. Patutkah ia bersanding dengan Larasati, putri seorang kyai?”

Rangkuti tersenyum menenangkan. “Kyai Omar tidak memandang strata sosial, Mbah. Ia melihat Damar sebagai pemuda saleh, cerdas, dan tekun.”

Akhirnya, Mbah Dasima bertanya pada anaknya. “Damar, maukah engkau menjadi menantu Kyai Omar?”

“Ya, Ibu. Aku ikut nasihatmu,” jawab Damar mantap.

Hari baik pun ditentukan. Lamaran dilangsungkan, disusul pernikahan sederhana namun penuh berkah. Dari pernikahan itu, Damar dan Larasati dikaruniai delapan anak: Alimudin, Badarudin, Sekar Astuti, Suryo Abidin, Sayidah, Immawati, Tejo Nugroho, dan Fatwa Pujangga.

Kebahagiaan sempat terasa lengkap, hingga masalah ekonomi perlahan menguji rumah tangga mereka. Damar belum memiliki pekerjaan tetap. Cibiran datang silih berganti. Pertengkaran kecil mulai muncul. Dua putra sulung mereka, Alimudin dan Badarudin, tumbuh menjadi remaja tangguh yang setia membantu ayahnya.

Perjuangan Damar akhirnya berbuah. Saat kelahiran Suryo Abidin, ia diangkat menjadi PNS sebagai guru agama. Gajinya tak besar, namun cukup untuk menopang keluarga. Ia kian aktif mengamalkan ilmu dan berdakwah, meski tak semua orang menyukainya.

“Mbah Kyai Omar, Damar membuat gaduh masyarakat,” lapor seseorang bernama Mukidi.

“Aku tidak percaya. Damar adalah murid dan menantuku yang kupercaya,” bantah Haji Omar tegas.

Suatu malam, Damar bersilaturahmi kepada mertuanya. “Apakah benar kabar itu, Damar?” tanya Haji Omar.

“Itu fitnah, Ayah. Aku hanya mengamalkan ilmu yang engkau ajarkan.  aku mohon izin mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di kampung ini,” jawab Damar jujur.

“Alhamdulillah. Aku restui. Berdakwahlah dengan hikmah dan jaga keharmonisan warga,” jawab Haji Omar.

Sejak itu, hubungan guru dan murid kembali hangat. Silaturahmi menjadi benteng melawan fitnah. Aryo Damar dan Larasati menjalani hidup dengan penuh makna, membangun masyarakat Karang Asmoro yang berkeadaban dan berkemajuan. Dari langgar kayu itulah, ilmu agama Damar bermula, Dari Mushota At-Taqwa Ranting Muhammadiyah tumbuh dan terus berkembang melahirkan amal usaha pendidikan, masjid, mushala, dan generasi penerus.

______________

Penulis adalah Ketua Ranting Dorang Nalumsari Jepara, guru, pegiat literasi Jepara, mantan Ketua IMM Komisariat Al-Faruqi UIN Walisongo Semarang, serta peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah.

Total Page Visits: 329 - Today Page Visits: 2

Leave a Reply

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com